- Just In Time (JIT)
- Total Quality Manajemen (TQM)
- Rekayasa Ulang
- Theory of Constraint/Teori Kendala (TOC)
Adalah filosofi yang terpusat pada penentuan waktu, efisiensi dan mutu dalam memenuhi komitmen-komitmen. Perusahaan yang menerapkan JIT berjuang untuk perbaikan yang berkelanjutan dan pencarian serta penghilangan pemborosan bahan baku, waktu dan tempat. Perusahaan membeli material dan memproduksi unit output sesuai dengan permintaan aktual dari konsumen. Persediaan dikurangi sampai tingkat minimum bahkan sampai nol. Pendekatan JIT dapat digunakan baik pada perusahaan dagang maupun perusahaan manufaktur yang memiliki tiga kelompok persediaan, yaitu :
Bahan Baku :
material atau bahan dasar yang digunakan untuk membuat produk.
Barang Dalam Proses :
Persediaan barang yang proses produksinya baru diselesaikan sebagian dan masih membutuhkan pekerjaan lebih lanjut sebelum siap dijual kepasar.
Barang Jadi :
Unit produk yang telah diproses secara penuh, tetapi belum dijual kepada konsumen.
Konsep JIT yang ideal adalah perusahaan yang menjalankan sistem JIT akan membeli bahan baku hanya untuk kebutuhan hari itu saja. Dengan konsep JIT yang ideal perusahaan mampu secara substansial mengurangi beban pengimpanan dan pemesanan serta dapat meningkatkan efektivitas operasi.
Dalam lingkungan JIT, arus barang dikendalikan dengan pendekatan pull dimana produksi baru akan dilakukan jika ada permintaan.
Elemen-elemen yang diperlukan untuk menjamin keberhasilan sistem JIT :
Perbaikan dalam layout produksi dapat meningkatkan throughtput yaitu total volume produksi yang telah melewati seluruh fasilitas produksi selama periode tertentu.
Perusahaan yang menerapkan sistem JIT akan selalu berusaha dengan keras untuk mencapat Zero Defect.
Total Quality Management (TQM)
Adalah lingkungan organisasional dimana semua fungsi bekerjasama untuk membangun mutu ke dalam produk atau jasa perusahaan. Hal ini dilakukan manajemen dengan cara meningkatkan masukan-masukan pelatihan atu dengan mengangkat keryawan-karyawan berpengalaman dan sangat terampil.
Karakteristik utama dari TQM:
- fokus pada pelayanan konsumen;
- Pemecahan masalah secara sistematik dengan menggunakan tim yang ada di garda depan.
Implikasi manajemen mutu terpadu terhadap akuntansi manajemen adalah :
(bersambung)
Bahan Baku :
material atau bahan dasar yang digunakan untuk membuat produk.
Barang Dalam Proses :
Persediaan barang yang proses produksinya baru diselesaikan sebagian dan masih membutuhkan pekerjaan lebih lanjut sebelum siap dijual kepasar.
Barang Jadi :
Unit produk yang telah diproses secara penuh, tetapi belum dijual kepada konsumen.
Konsep JIT yang ideal adalah perusahaan yang menjalankan sistem JIT akan membeli bahan baku hanya untuk kebutuhan hari itu saja. Dengan konsep JIT yang ideal perusahaan mampu secara substansial mengurangi beban pengimpanan dan pemesanan serta dapat meningkatkan efektivitas operasi.
Dalam lingkungan JIT, arus barang dikendalikan dengan pendekatan pull dimana produksi baru akan dilakukan jika ada permintaan.
Elemen-elemen yang diperlukan untuk menjamin keberhasilan sistem JIT :
- Memperbaiki lay out produksi
Perbaikan dalam layout produksi dapat meningkatkan throughtput yaitu total volume produksi yang telah melewati seluruh fasilitas produksi selama periode tertentu.
- Mengurangi waktu Set Up
- Zero Defect dan JIT
Perusahaan yang menerapkan sistem JIT akan selalu berusaha dengan keras untuk mencapat Zero Defect.
- Karyawan yang fleksibel
Total Quality Management (TQM)
Adalah lingkungan organisasional dimana semua fungsi bekerjasama untuk membangun mutu ke dalam produk atau jasa perusahaan. Hal ini dilakukan manajemen dengan cara meningkatkan masukan-masukan pelatihan atu dengan mengangkat keryawan-karyawan berpengalaman dan sangat terampil.
Karakteristik utama dari TQM:
- fokus pada pelayanan konsumen;
- Pemecahan masalah secara sistematik dengan menggunakan tim yang ada di garda depan.
Implikasi manajemen mutu terpadu terhadap akuntansi manajemen adalah :
- meningkatknya pengakuan atas biaya persediaan sebagai akibat tingkat persediaan yang lebih rendah;
- mengganti pola perilaku biaya;
- basis baru untuk mengalokasikan biaya;
- meningkatkan fokus pada pemangkasan biaya;
- perubahan defenisi biaya;
- meningkatnya tekanan pada ketepatan waktu informasi.
(bersambung)
